advertise

Lisensi Klub Indonesia Masuk Daftar Terendah di Kawasan ASEAN

Topbola.net – Direktur Kompetisi PT Liga Indonesia Baru (PT LIB), Tigor Shalomboboy mengatakan jika saat ini lisensi klub di Indonesia masih kalah dari beberapa negara tetangga.

Pria yang juga menjabat sebagai Licensing Manager PSSI itu menjelaskan akan pentingnya lisensi bagi klub mengingat ini merupakan salah satu proses yang harus dilalui setiap klub atas permintaan oleh AFC kepada seluruh member asosiasi yang termasuk di dalamnya, Indonesia. Nantinya, hasil dari proses lisensi ini adalah terbitnya surat kelayakan sebagai persyaratan untuk ikut berkompetisi di AFC.

PSSI sendiri sebelumnya telah mengundang 18 klub peserta Liga 1 sebagai kandidat untuk mengikuti proses lisensi kembali setelah mengalami vakum selama dua tahun.

Lantaran klub Indonesia tak ada yang memiliki lisensi dari AFC, maka tak ada pula wakil Indonesia di ajang Asia. Diakui oleh Tigor, soal lisensi, Indonesia cukup tertinggal dari negara-negara Asean lainnya, seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

“Ada beberapa negara di kalangan ASEAN saja sudah bisa dapat lisensi profesional. Kita kalah dengan Malaysia, kita kalah dengan Myanmar, kita kalah dari Vietnam, bahkan kalah dengan Thailand yang punya 18 tim yang sudah dilisensi. Itu kondisinya kita sangat jauh tertinggal setelah dua tahun diterpa konflik,” ujar Tigor.

Tigor menambahkan jika sejatinya Indonesia sempat mengejar ketertinggalannya pada beberapa tahun lalu, namun adanya beberapa masalah di dua tahun terakhir membuat Indonesia kembali tertingga; dari negara lain di ASEAN.

“Ketertinggalan kita, pada 2008 sampai 2011 sudah kita jalankan. Tapi ada dua kali turbulensi di sepak bola Indonesia yang membuat kita jauh tertinggal pada 2011, 2013 dan kita mulai 2014, ada tiga klub yang dapat saat itu. Lalu 2015-2016 kita dihajar lagi turbulensi kedua, dan itu membuat klub tak bisa berbicara banyak dan tak bisa untuk bangkit. Tahun ini mudah-mudahan ini jadi momen untuk kita butuh stabilitas di sini karena lisensi itu proses,” lanjutnya.

“Dari 2008 sampai saat ini, Thailand pun berproses dan Jepang yang punya 45 klub terlisensi, tapi mereka tak pernah diterpa masalah di internal. Bukan mencari kesalahan tapi itulah yang terjadi dan klub merasakan itu sekarang. Mereka tidak bisa ikut kompetisi dan harus survive,” pungkas Tigor. (Metronews)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 2 =