Ini Keterangan Djamal Aziz Terkait Match Fixing

Topbola.net – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kini terus melakukan pengembangan kasus pengaturan skor “match fixing” yang melibatkan Persipur Purwodadi di Divisi Utama pada 2013. Tidak tanggung-tanggung, mereka meminta keterangan dari Anggota Komite Eksekutif PSSI, Djamal Aziz.

Djamal yang akhirnya memenuhi undangan Komisi Disiplin di mana namanya sempat disebut oleh mantan pelatih Persipur Purwodadi, Gunawan dalam kasus pengaturan skor atau “match fixing” yang dilakukan klubnya pada 2013.

Dalam pernyataannya Gunawan menyebut pihaknya sudah menghubungi Djamal untuk melaporkan tindakan pengaturan skor yang dilakukan klubnya namun laporannya tak digubris oleh Djamal Aziz.

Djamal menegaskan pihaknya waktu itu dirinya bukan tak mau merespons dengan baik laporan Gunawan namun ia berkelit ketika itu bukan kapasitasnya dia karena ia merupakan Komite Media yang bukan mengurusi hal seperti itu.

“Pada 2011-2013 saya masuk menjadi komite media, bukan komite kompetisi. Sedangkan Gunawan bilang saya komite kompetisi,” ujar Djamal dilansir situs PSSI.

Selama rentang waktu tersebut, Djamal yang juga menjabat sebagai anggota Komisi X DPR RI, mengaku belum secara maksimal menjalani perannya di PSSI Terlebih, kata dia, pada 2011 juga terjadi dualisme kepengurusan di tubuh PSSI dan dari segi kompetisi pun terdapat unifikasi antara turnamen ISL dan IPL pada 2013 sehingga kepengurusan sepak bola Divisi Utama kurang terfokus.

“Saya tidak tahu apakah benar atau tidak, karena saat itu juga saya masih sangat aktif jadi anggota dewan yang tiap hari ada telepon masuk ke saya dari konstituen saya. Harusnya dia sebagai orang yang punya etika baik untuk sepak bola nasional langsung datang saja ke PSSI dan lapor ke pak Hinca selaku ketua Komdis PSSI saat itu mengenai pelanggaran-pelanggaran yang ada. Saat itu kan intensitas saya di PSSI tidak seperti saat ini,” lanjut Djamal.

Sementara itu, Ketua Komisi Disiplin Ahmad Yulianto mengatakan bahwa dari pernyataan Gunawan, Djamal, dan pihak PT Liga Indonesia, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa memang praktik pengaturan skor timbul karena pada 2013 ada larangan penggunaan APBD kepada klub klub untuk sepak bola

“Itu juga dikarenakan oleh keputusan Menteri Gamawan Fauzi yang melarang penggunaan APBD kepada klub-klub untuk sepak bola. Makanya, itu adalah salah satu cara klub-klub untuk mendapatkan dana. Federasi sepak bola yang sedang bermasalah juga menjadi penyebabnya saat itu,” timpal Ahmad Yulianto.