Inggris Mulai Curigai Adanya Dukungan untuk Hooligans Rusia

Topbola.net Berita Top Bola hari ini, Pejabat senior pemerintahan Inggris mulai mencurigai adanya hubungan antara pemerintahan Vladimir Putin dengan aksi kerusuhan suporter garis keras Rusia di Piala Eropa 2016.

Dilansir dari The Guardian, Inggris juga menyakini bahwa sebagian dari kelompok suporter yang terlibat kericuhan dan menyerang suporter Inggris di kota Marseille pada 10 Juni lalu adalah bagian dari pasukan keamanan Rusia.

Anggota istana kerajaan Inggris juga mengeluarkan teori bahwa keberadaan suporter garis keras (hooligans) mendapatkan restu Kremlin dan juga jadi bagian kampanye untuk menciptakan suasana perang. Bagi pihak di luar Rusia, kerusuhan itu akan terlihat sebagai unjuk kekuatan Rusia, sementara di dalam negeri untuk menunjukkan bahwa negara-negara lainnya memiliki sikap antipati terhadap negeri tersebut.

Kepada Observer, anggota istana juga mengatakan bahwa pihak keamanan Inggris sedang mengawasi sosial media untuk mencari tahu latar belakang kerusuhan tersebut.

“Sangat sukar untuk membuktikan bahwa kerusuhan ini direstui Kremlin, namun kami bisa melihat bahwa sebagian dari mereka (suporter Rusia) adalah bagian dari pasukan keamanan Rusia,” demikian sumber dari istana Whitehall.

Kepala operasi pengamanan Piala Eropa 2016 dari kepolisian Inggris, Mark Roberts, mengatakan bahwa aksi kerusuhan di Marseille adalah penyerangan paling serius dan terkoordinasi yang pernah ia lihat dalam masa 10 tahun mengurusi soal kekerasan di sepak bola.

Ia mengatakan bahwa saksi mata dari kepolisian Inggris melihat sekitar 150 pendukung Rusia membawa peralatan seperti pelindung gigi dan juga sarung tangan yang biasa digunakan dalam pertarungan seni bela diri.

Kepolisian Perancis hingga saat ini telah menahan 43 pendukung Rusia, dengan satu di antaranya adalah Alexander Shprygin — pria yang pernah difoto di samping Putin ketika menghadiri pemakaman seorang suporter sepak bola pada 2010 silam.

Pihak pemerintah Rusia membantah adanya penangkapan terhadap pendukung mereka dan menuduh pihak keamanan Perancis menyebarkan sentimen anti-Rusia.